16.07.2018

Melawan Arus - Bagian 2

Dua orang Perintis. Ivana Lee dan suaminya adalah dua sosok yang saling bertolakbelakang, namun yang menyatukan mereka adalah keinginan untuk membentuk dunia lebih baik.

Photo by Helena Schaetzle

"Sudah siap", terdengar suara dari dapur. Suami Ivana, Budi Santoso selesai memasak sop soun, wortel dan bawang merah. Lauk lainnya tempe dan tahu goreng. Tempat tinggal mereka tampak seperti rumah kos. Di dinding tergantung sketsa dari arang, di rak terlihat tumpukan buku tentang Salvador Dali dan Republik Weimar. Meja makan rendah dari lempengan marmer yang ditopang dua kardus minuman. Budi duduk bersila disamping istrinya.

Budi adalah seorang pemahat dan seorang pribadi yang dalam banyak hal, bertolak belakang dengan pribadi Ivana. Apa yang tampak dalam diri Budi adalah seorang yang berisik dan suka provokasi: tawanya, antingnya, lengannya yang bertato. Laki-laki berumur 38 tahun itu memakai topi yang dibalik dan dari sorot matanya, terlihat ia kurang tidur tadi malam. Ivana yang duduk di samping suaminya kelihatan lebih tidak bersemangat. Ketika Ivana mulai makan makanannya, Budi menyalakan rokok lintingannya. "Saya sadar, saya kelihatan lain daripada Ivana, ujarnya sambil menyeringai. "Waktu saya melambaikan tangan memanggil taksi, sopirnya melemparkan beberapa uang receh kepada saya", pikirnya saya seorang tuna wisma. Peristiwa semacam itu tidak pernah terjadi pada Ivana.

Mereka berkenalan dalam sebuah lokakarya tentang perubahan iklim. Waktu itu Ivana membuat anting-anting dari bahan sampah plastik. Budi menunjukkan kepada anak-anak bagaimana memotong raut wajah dari serat kayu.

"Ivana menarik perhatian saya karena orangnya begitu ramah dan penuh kasih sayang", kenang Budi. Dia selalu ada untuk siapa saja. Tapi dia juga bisa serius dan bersikap formal. Dulu kehidupan Ivana tidak pernah lepas dari perjuangannya melawan penggusuran. Pada malam hari waktunya habis untuk membaca akte-akte. Sebaliknya, suaminya adalah seorang pemberontak yang suka pesta dan musik punk. Teman-teman seniman Budi menunjukkan sikap anti kapitalisme melalui karya mereka dengan memunculkan hal-hal yang lucu. Di pesan singkat, Budi selalu menuliskan kata-kata: "Ingat, tertidur selalu dengan senyum".

Budi orang yang penuh semangat dan bergairah untuk hidup. Hal yang seperti ini jarang terlihat dalam diri Ivana. "Saya kadang-kadang bersikap negatif dan mendendam", cerita Lee. Budi tidak demikian. Dia selalu gembira dan bijaksana. Lama kelamaan Ivana belajar dari Budi untuk menikmati keindahan dunia. Budi mengajari Ivana naik sepeda, mereka pergi ke konser, ke pameran, menonton film Hollywood bersama, yang paling disukai film-film yang bercerita tentang kisah nyata dan kisah yang berakhir dengan baik. Jika Ivana sedang sedih, Budi menghiburnya dengan hal-hal yang lucu hingga ia tertawa.

Pada bulan Juni 2015, beberapa bulan setelah pertemuan pertama, Ivana dan Budi menikah. Pesta pernikahan dimeriahkan dengan musik rock dan mereka berdansa sampai pagi. Setelah hidup bersama barulah mereka menyadari bahwa ada yang berbeda diantara mereka berdua. Ivana seorang yang sangat teliti dan teratur, sedangkan suaminya orangnya spontan dan suka membantu. Ivana selalu tidur lebih dulu, sedangkan Budi menghabiskan waktu di malam hari bersama teman-teman senimannya.

Photo by Elvin Johns

Apa yang menyatukan mereka berdua adalah keinginan untuk membentuk dunia lebih baik. Mereka adalah pionir dari golongan masyarakat yang sampai sekarang jarang ditemui: dalam bahasa Jerman disebut "Bildungsbürgertum" artinya golongan masyarakat dengan cita-cita pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai ideal. Dengan tumbuhnya golongan menengah, jumlah angka lulusan perguruan tinggi bertambah. Yang berkuliah di perguruan tinggi lebih banyak jumlah mahasiswi (30%) daripada mahasiswa (26%). Sedangkan di dunia internasional satu dari sepuluh orang sudah bertitel sarjana.

Ivana Lee memperhatikan gaya hidup yang ekologis. Di rumah mereka mebel dibeli dari pasar loak. Ia juga belajar membuat kosmetik berbahan alami, membeli beras organik meskipun harganya lebih mahal, serta menghindari penggunaan plastik. Indonesia menduduki posisi kedua setelah Tiongkok dalam hal pencemaran laut dengan sampah plastik. Memang pemerintah telah berkampanye untuk memilah sampah dan mengurangi penggunaan bahan plastik. Kalau berbelanja, Ivana menolak menggunakan kantong plastik - sesuatu yang jarang dimengerti oleh para pedagang. Sebagaimana juga keheranan mereka ketika Budi pergi belanja "Di mana istrimu, kok kamu yang berbelanja?"

Jalannya sendiri

Meski dianggap bukan urusan laki-laki, Budi memasak. Yang juga lain darinya, di dadanya terdapat bertato yang bertuliskan "persamaan hak". Ada juga yang tidak lazim dari pernikahan ini, Budi seorang muslim, Ivana beragama Katolik. Di Indonesia, sebelum menikah kebanyakan seorang berpindah agama mengikuti agama calon suaminya. Tetapi Lee tetap penganut Katolik, dan upacara pernikahan berlangsung di gereja. Seorang pastor berpesan, sebagai syarat dari pernikahan ini: "Nantinya anak dari pasangan ini harus dididik secara Katolik". Santoso hanya mengangkat bahu. Bagi Budi sama saja, siapa pun dapat berdoa untuk Tuhan yang sama.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, beberapa tahun terakhir ini menjadi lebih konservatif. Dari kampung tengah kota Jakarta berkumandang suara adzan dan khotbah dari pengeras suara di mesjid-mesjid, mengingatkan para istri untuk patuh kepada suami. Dalam hal ini Budi mendukung Ivana untuk mencari jalannya sendiri.

Photo by Elvin Johns

Matahari berputar menyinari langit Jakarta. Pagi ini Ivana berangkat dari rumahnya lebih pagi untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Biasanya ia pergi naik Angkutan Kota. Transportasi umum jarak dekat belum ada, meskipun ada lebih dari tiga juta orang pekerja di luar Jakarta yang menggunakan jasa angkutan umum setiap hari. Transportasi umum Moda Raya Terpadu saat itu baru dibangun. Hari ini Ivana memutuskan untuk naik taksi. Ia hanya perlu waktu satu jam dengan taksi dibandingkan dengan Angkutan Kota. Di dalam taksi Lee bisa menyiapkan pekerjaan barunya dengan tenang, sementara lalu lintas di jalan raya padat.

Sopir taksi menanyakan apakah Ivana mau lewat jalan tol. Ia memilih jalan berbayar, hari ini adalah pengecualian.

Jakarta adalah kota dengan dua wajah. Kalangan berada bisa melakukan apa saja. Mereka tinggal di lingkungan eksklusif, rumahnya berpagar tinggi, bisa pergi ke mal-mal mewah, mampu membayar tiket masuk ke tempat bermain anak-anak dan taman rekreasi. Kalangan inilah yang menggunakan jalan tol. Sebaliknya kalangan yang kurang mampu menggunakan jalan raya biasa yang selalu macet.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah di Jakarta Selatan. Di sini tinggal Wanda Soepandji, teman Ivana. Bersama mereka menyelenggarakan kursus arsitektur sejak awal tahun. Sejak di universitas keduanya menemukan kesamaan, mempunyai nilai-nilai yang non-material seperti pelestarian lingkungan, hak-hak kaum minoritas, kesejahteraan umum. Mereka mendirikan sebuah klub yang dinamakan "Arsitek Telanjang Kaki". Studi arsitektur bagi Ivana adalah pilihan studi secara kebetulan dan ia sempat meragukan kemampuannya. Ketika ia akhirnya memutuskan untuk menekuni program studi ini, dipikirnya mungkin tidak terlalu sulit, "Bukankah studi arsitektur juga berhubungan dengan menggambar dan melukis"? Barulah ketika ia menghabiskan waktu bermalam-malam di fakultas untuk menyelesaikan tugas yang mendekati batas waktu, Ivana menyadari kekeliruannya namun ia tidak menyerah.

Ia sadar, mungkin saja masa depannya akan berbeda dari harapan semula. Orangtua Ivana menginginkan dia mencari nafkah seperti saudara kandungnya; bekerja di bidang keuangan ataupun menjadi ahli informatika. Banyak juga teman kuliah Ivana yang dalam profesinya mengambil jarak dengan kemiskinan. Tujuan utama mereka: mencari uang, membangun rumah, membeli mobil. "Keinginan semacam ini tak pernah terpikir waktu itu", kata Ivana. Ia terlalu lembut untuk dunia bisnis properti dan investasi. Sewaktu kuliah dulu, ia selalu membawa dua kura-kura peliharaannya ke kelas karena khawatir mereka merasa kesepian. Intinya: Semakin banyak Ivana belajar tentang eksploitasi yang merusak lingkungan, semakin berkurang minatnya untuk terlibat dalam dunia bisnis. 

Bersambung ke bagian 3

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Lita Priatna dan pertama kali diterbitkan oleh Majalah GEO Perspektive Nr. 01/2018 Was im Leben zählt (Apa yang Diperhitungkan dalam Hidup). Telah diadaptasi untuk format dan gaya penulisan. Publikasi selengkapnya bisa ditemukan di https://shop.geo.de/geo-perspektivenr-01-2018was-im-leben-zaehlt.html

Tulisan ini tidak mewakili pandangan FES Indonesia.

Friedrich-Ebert-Stiftung
Indonesia Office

Jl. Kemang Selatan II No. 2A
Jakarta Selatan 12730
Indonesia

+62 21 7193711
+62 21 71791358

info(at)fes.or.id
www.fes.or.id

kembali ke atas