15.07.2018

Melawan Arus - Bagian 1

Ivana Lee, merindukan satu kehidupan di alam terbuka dan sebagai seorang arsitek mencoba untuk menjinakkan kekejaman kota Jakarta. Ivana Lee, pribadi yang lembut dan keras hati. Satu kehidupan yang penuh pertentangan. Satu kehidupan yang menjadi mungkin di Jakarta.

Dia tak ingin menyingkir. Ketika alat berat bergerak ke arahnya, dia tetap berdiri dan berteriak. Teriakan Ivana tidak ada gunanya, lalu dia memungut sepotong bambu dari pinggir jalan, mematahkannya menjadi dua bagian dan memukulkan kedua potongan bambu tersebut. Begitulah kesepakatan para pendemo pada pagi hari itu. Apabila tak bisa menahan kemarahannya, mereka akan membuat suara ribut. Ratusan aktivis dan warga Bukit Duri, Jakarta Selatan membuat kegaduhan melawan alat berat itu. Namun mesin tersebut tetap menggelinding, tidak dapat dihentikan.

Satu persatu rumah warga dirobohkan, tempat tinggal yang sederhana, terbuat dari seng dan batu bata, warung-warung kecil, kios-kios yang dimiliki pedagang keturunan Tionghoa yang menjual permen dan rokok ikut dirobohkan.

Banyak warga Bukit Duri yang memiliki surat kepemilikan tempat tinggal. Tetapi alat-alat berat lebih kuat daripada hukum, menghancurkan rumah mereka tanpa peduli. Tempat di mana dulu berdiri rumah dan pondok-pondok, sekarang telah berkembang menjadi jalan lebar beraspal. Ivana Lee memandang ke sekelilingnya. "Polisi telah merusak segalanya", katanya perlahan dengan berlinang air mata.

Wanita berumur 33 tahun dengan rambut dikepang, mengenakan celana jins berwarna gelap dan sepatu balerina. Ia memiliki raut wajah anak muda dan berbicara dengan lemah lembut, seolah-olah sedang menimang anak kecil. Tak seorangpun percaya bahwa Ivana bisa marah. Tetapi kalau kata-kata bijaksana tidak didengar dan ketidakadilan menjadi begitu kuat, dan membuatnya sedih, maka Ivana akan memperlihatkan sisi perlawanannya. Lawan Ivana adalah perubahan yang sangat cepat yang tidak mengindahkan keadaan alam dan manusia.

Photo by Elvin Johns

Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang tercepat pertumbuhannya. Sejak turunnya Suharto di tahun 1998, produk domestik bruto di Indonesia naik sepuluh kali lipat. Kemajuan ini menggerakkan masyarakat dan juga dirasakan di luar ibu kota Jakarta. Kalangan menengah tumbuh dengan baik dan menginginkan konsumsi dan kenyamanan. Ivana Lee adalah bagian dari kalangan menengah yang mencita-citakan hal ini, namun ia berjalan di jalannya sendiri, baik dalam bidang pekerjaan maupun kehidupan pribadinya: tenang dan bersikap hati-hati.

Ivana adalah seorang arsitek komunitas, sebuah pekerjaan yang menggeluti perencanaan kota dan pekerjaan sosial. Ia membantu dalam merencanakan daerah urban yang diperuntukkan bagi segenap warga kota. Di Jakarta ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Pada abad ke-17 penguasa kolonial Belanda telah mengubah tempat ini menjadi pusat perdagangan rempah dan kopi. Tempat ini dipilih karena tidak menguntungkan. Jakarta letaknya hanya beberapa meter diatas permukaan laut dan dilalui 13 sungai. Saat ini Jakarta sebagai pusat berbagai aktivitas diihuni 10 juta orang. Jumlahnya berlipat ganda karena banyaknya pendatang. Kondisi ini membuat Jakarta menjadi kota megapolitan terbesar kedua setelah Tokyo. Sedikitnya sekali dalam setahun Jakarta mengalami banjir. Banjir ini berdampak terhadap masyarakat lapisan bawah seperti pedagang kecil dan nelayan yang tinggal di bantaran sungai. Masalah banjir di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, hingga pada tahun 2014 gubernur saat itu memutuskan untuk meratakan bantaran sungai dan membangun bendungan. Untuk kepentingan tersebut daerah kumuh harus digusur. Warganya direlokasi ke rumah susun sewa. Sejak keputusan tersebut dilaksanakan, lebih dari 300 daerah miskin telah dilenyapkan dalam kurun waktu 2 tahun.

Jika Ivana sekarang menyusuri sebagian daerah kumuh yang masih tersisa di Bukit Duri, langkahnya menjadi lebih perlahan, seakan-akan tanpa tenaga. Dulu tanpa mengenal lelah ia berjuang untuk kepentingan warga di sini, untuk anak-anak yang bermain layangan di bantaran sungai, untuk ibu rumah tangga yang menjemur cucian di depan rumahnya yang masih tersisa, untuk warga lanjut usia yang mendorong gerobak buahnya melewati gang-gang kecil, pedagang tua yang gerobaknya dipenuhi buah mangga dan durian. Lagi-lagi warga di sini menyebut nama Ivana dari balik jendela rumahnya. Anak-anak berlari menghampiri; setiap orang di sini mengenalnya.

Tujuh tahun lamanya Ivana Lee bergabung di Ciliwung Merdeka, sebuah organisasi yang berjuang mempertahankan keberadaan daerah miskin di Jakarta. Untuk menghindari terjadinya penggusuran oleh pemerintah kota, mereka duduk bersama dengan para politisi, menulis puisi, mengorganisasi aksi protes dan merancang rencana pembangunan kampung alternatif. Ivana yakin bahwa Jakarta dapat dimodernisasi tanpa mengesampingkan hak asasi manusia. Apakah perjuangan hak hidup warga Bukit Duri tidak membuahkan hasil? Bukankah Indonesia adalah negara demokrasi, dimana setiap warganya memiliki nilai yang sama dan haknya tidak dapat diabaikan dalam hukum?

Pada bulan September 2016, ketika Ivana melihat setiap rumah di Bukit Duri dihancurkan, ia memahami bahwa hukum tak tertulis lebih berkuasa. Yang memiliki uang bisa berbuat apa saja, kaum marginal harus menerima keadaan, tak bisa mengadakan perlawanan. Pada hari itu 363 kepala keluarga kehilangan tempat tinggalnya. Kepada rekan-rekan di organisasi ia bertanya: "Apa yang masih harus kita lakukan"? Tak seorangpun tahu jawabannya. Berhari-hari Ivana menangis hingga akhirnya berhenti bergabung di organisasi Ciliwung Merdeka. "Banyak dari teman-teman tidak memahami kemarahan saya", kenangnya. "Bagi mereka, pemindahan paksa warga Bukit Duri adalah harga yang tak bisa ditawar untuk modernisasi. Pada waktu itu saya menyadari, menggerakkan perubahan cara berpikir harus dimulai lebih awal".

Photo by Helena Schaetzle

Menjelang malam Ivana duduk bersama suaminya di teras rumahnya yang kecil di Jakarta Timur. Mereka menyewa rumah dengan dua kamar. Daerah sekitar rumah mereka tampaknya seperti sebuah kampung. Ada banyak kios dan jasa cuci pakaian, tempat tinggal sempit dengan perabotan sederhana, kursi teras berwarna gelap. Di gang berkeliaran binatang piaraan -ayam- sedang mematuk-matuk sisa makanan. Tidak berapa jauh dari daerah permukiman ini, mobil dan sepeda motor lalu lalang menuju ke pusat kota. Udara disekitarnya dikotori asap motor. Pengendara sepeda motor dan pejalan kaki terpaksa memakai masker.

Photo by Elvin Johns

Ivana melihat pemandangan semacam itu dengan penuh kekhawatiran. Ia tahu apa rasanya ketika modernisasi merugikan manusia dan lingkungan. Ia berasal dari Pekanbaru dan menghabiskan masa kecilnya di sana. Ketika perusahaan sawit membakar habis hutan-hutan, asap tebal menyelimuti kota. Setiap ia pergi ke sekolah, ia harus mengenakan masker. Mobil di jalan raya pun harus menyalakan lampu sepanjang hari.

Orangtua Ivana memiliki sebuah toko kecil. Bagian belakang toko digunakan ibunya untuk menjahit kemeja pekerja perkebunan kelapa sawit. Bagian depan toko digunakan ayahnya untuk melayani pelanggan dengan minuman dan soto ayam. Kini, di depan jendela rumah lamanya tidak ada lagi pasar tradisional, yang ada hanya sebuah jalan yang tak terurus, dan warung ayahnya dulu, kini tampak sepi. Sekarang ia tahu, rumah lama orangtuanya telah dirobohkan oleh investor.

Keluarga Ivana tidak dapat mempertahankan rumahnya karena mereka tidak dapat membuktikan kepemilikan lahan tempat tinggal yang sudah dimiliki keluarga mereka sejak beberapa generasi. Ketika di lahan tersebut didirikan bangunan untuk tempat tinggal, perjanjian kepemilikan lahan tersebut tidak tertulis. Pemerintah kota menganggap kepemilikan lahan itu ilegal dan mereka harus angkat kaki dari sana.

Mungkin saja, pengalaman Ivana kecil bersama orangtuanya yang kehilangan tempat tinggal pada waktu itu menjadi alasan baginya untuk berpihak pada warga Bukit Duri. Untuk ikut merasakan kepedihan mereka yang terusir dari tempat tinggalnya, seolah-olah rumahnya lah yang dirobohkan dengan alat berat itu. "Bukit Duri adalah rumah kedua saya, mereka sudah seperti keluarga saya. Melihat penggusuran di Bukit Duri menjadi momen yang paling menyedihkan dalam hidup saya".

Bersambung ke bagian 2

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Lita Priatna dan pertama kali diterbitkan oleh Majalah GEO Perspektive Nr. 01/2018 Was im Leben zählt (Apa yang Diperhitungkan dalam Hidup). Telah diadaptasi untuk format dan gaya penulisan. Publikasi selengkapnya bisa ditemukan di https://shop.geo.de/geo-perspektivenr-01-2018was-im-leben-zaehlt.html

Tulisan ini tidak mewakili pandangan FES Indonesia.

Friedrich-Ebert-Stiftung
Indonesia Office

Jl. Kemang Selatan II No. 2A
Jakarta Selatan 12730
Indonesia

+62 21 7193711
+62 21 71791358

info(at)fes.or.id
www.fes.or.id

kembali ke atas