23.03.2020

Bagaimana Corona Merusak Sistem

Krisis virus corona mengirimkan gelombang kejut pada sistem politik, ekonomi dan sosial. Situasi status quo ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut.

Temporarily close business as COVID-19 outbreak. Image: iStock | Kanawa_Studio
Temporarily close business as COVID-19 outbreak. Image: iStock | Kanawa_Studio

"Selama beberapa minggu ke depan, fondasi dari tatanan dunia baru akan diletakkan."

Tidak seorang pun tahu berapa lama pandemi ini akan berlangsung, berapa banyak orang akan jatuh sakit, berapa banyak nyawa yang akan direnggut oleh virus corona. Namun, dampak ekonomi dan politik yang diakibatkan wabah tersebut sudah mulai muncul. Pada saat ini langkah-langkah untuk menahan pandemi tersebut mendisrupsi kehidupan publik di seluruh dunia.

Dimulai dengan Tiongkok, produksi telah terhenti di satu demi satu wilayah di sana. Rantai pasokan global terputus. Anda tidak memerlukan banyak imajinasi untuk melihat gelombang kebangkrutan mulai melanda banyak industri dimana setiap sen terakhir dihitung.

Dalam beberapa hari terakhir, liputan media didominasi oleh berita tentang panic buying di kalangan masyarakat. Namun, konsumen yang cemas cenderung untuk menunda pembelian yang lebih besar. Ketika barang menjadi langka, konsumsi juga akan turun. Gejolak ini kemungkinan akan menyebabkan ekonomi Eropa yang sudah lesu anjlok menuju resesi.

Bahkan sebelum dampak menyeluruh dari pandemik ini dirasakan oleh negara berkembang, implikasi ekonominya sudah cukup menghancurkan. Kebijakan karantina wilayah atau lockdown mengakibatkan jutaan pekerja di Pakistan, India, Bangladesh, Indonesia dan Thailand tanpa pilihan selain kembali ke kampung halaman atau negara asalnya untuk bertahan hidup. Ini dikhawatirkan akan meningkatkan resiko penyebaran virus ke tempat lain yang lebih terpencil dan jauh lebih miskin. Di saat yang sama, penurunan permintaan konsumen telah mengakibatkan perusahaan brand global membatalkan pesanannya, dan selanjutnya menghantam produser tekstil seperti Bangladesh atau Indonesia. Pembatasan pergerakan di dalam negeri, penutupan pelabuhan utama dan jejaring logistic di Tiongkok juga mengirimkan efek riak melalui rantai pasokan global. Dengan ketiadaan pasokan, pengusaha pabrik di Malaysia atau Korea Selatan terpaksa menyetop produksi dan memberhentikan pekerja. Perdagangan lintas batas, misalnya antara Myanmar dan Tiongkok, juga menderita kerugian. Ambruknya sektor pariwisata juga dialami oleh Thailand, Filipina, dan Indonesia.

Menurunnya permintaan di Tiongkok secara tiba-tiba menimbulkan guncangan pada pasar komoditas, dan secara khusus berdampak pada eksportir kelapa sawit seperti Malaysia dan Indonesia. Eksportir komoditas lainnya, seperti Mongolia, yang juga sangat tergantung pada pasar Tiongkok, telah merasakan kerugian. Setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) gagal mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk mengurangi produksi guna menstabilkan harga, Arab Saudi mengubah strateginya dengan membanjiri pasar dengan minyak harga murah. Sebagai akibatnya, harga minyak anjlok ke harga terendah dalam sejarah. Dalam jangka pendek ini mungkin akan membantu bagi industri dan konsumen. Namun, perang harga minyak, kekhawatiran akan resesi dan bencana di pasar obligasi menyebabkan ambruknya pasar modal. Hanya intervensi dengan visi jangka panjang oleh semua bank sentral utama lah yang sampai saat ini mampu mencegah terjadinya krisis keuangan.

Respon ekonomi

Beberapa negara, khususnya Jerman, dengan cepat meluncurkan paket-paket ekstensif berupa langkah untuk meredam krisis ekonomi yang akan datang. Setelah ragu-ragu pada awalnya, Amerika Serikat juga merencanakan untuk memberlakukan stimulus ekonomi yang komprehensif, termasuk melakukan hal yang belum ada presedennya sebelumnya, penyebaran helicopter money - istilah ahli ekonomi Milton Friedman untuk kebijakan ekonomi yang diambil dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi ketika kebijakan fiskal dan moneter konvensional gagal mendongrak perekonomian.

Negara ekonomi berkembang seperti Thailand, India, atau Indonesia telah menyiapkan paket stimulus ekonomi. Tetapi tidak setiap negara, khususnya dengan perekonomian yang lebih lemah, memiliki kemampuan fiskal untuk mengaktifkan sistem perlindungan sosial sebagaimana yang dimilki oleh negara maju untuk melindungi bisnis menengah dan kecil, pekerja lepas serta harian.

Apakah langkah-langkah yang sudah dan berpotensi akan diambil dalam waktu dekat akan cukup untuk menghentikan penurunan ekonomi akan tergantung pada sejauh mana krisis yang sedang terjadi menggerogoti sistem. Di masa lalu berakhirnya epidemi yang menyebabkan ekonomi merosot tajam dalam waktu yang singkat biasanya diikuti oleh pertumbuhan yang cepat. Apakah akan demikian juga kasusnya dengan krisis corona? Ini tergantung pada banyak faktor, paling tidak pada berapa lama pandemi ini akan berlangsung.

Namun, yang lebih memprihatinkan adalah gelombang kejut yang melanda sistem keuangan kita yang sedang bermasalah, dimana gelombang tersebut saat ini bahkan mempercepat tren-tren jangka panjang yang merisaukan. Banyak industri dan rumah tangga di Amerika sekarang memiliki hutang berlebihan. Di Tiongkok sendiri bank bayangan, perusahaan real estat dan perusahaan milik negara, bersama-sama dengan pemerintah propinsi, semuanya tertekan oleh beban hutang. Bank-bank Eropa belum sempat pulih dari krisis keuangan sebelumnya. Runtuhnya ekonomi di Italia dapat menyebabkan krisis mata uang euro bergejolak lagi. Cara para investor melarikan diri demi keamanan obligasi pemerintah menunjukkan ketakutan mendalam bahwa sistem yang rapuh seperti rumah kartu itu akan runtuh. Krisis corona dapat menggerakkan reaksi berantai yang akan berakhir dengan krisis keuangan global.

Walaupun demikian, berbeda dengan krisis keuangan di 2008, kali ini bank-bank sentral tidak berada di posisi untuk memberikan solusi. Sampai sekarang tingkat suku bunga masih berada di titik terendah dalam sejarah di semua ekonomi yang utama. Oleh karenanya, bank sentral AS telah mulai menyediakan likuiditas langsung ke pasar melalui transaksi repo. Kepala Bank Sentral Eropa yang baru, Christine Lagarde, awalnya tersandung dalam menanggapi krisis Eropa, sehingga memicu spekulasi terhadap keutuhan kelompok euro. Namun, melalui intervensi yang terkoordinasi, semua bank sentral utama sekarang telah memperlihatkan tekad mereka untuk mengambil sikap melawan kepanikan yang sedang terjadi di pasar. Akan tetapi, pertanyaan pentingnya adalah apakah benar krisis corona ini dapat diatasi dengan instrumen kebijakan moneter. Ini sangat tergantung pada sifat krisisnya sendiri.

Crashing Stock Market Due to Coronavirus Covid-19. Image: iStock | Natanael Ginting
Crashing Stock Market Due to Coronavirus Covid-19. Image: iStock | Natanael Ginting

Demokrasi sekarang harus memenuhi janji

Krisis ini sama sekali tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja. Kemampuan negara untuk melindungi kehidupan dan seluruh anggota tubuh warganya juga sedang diuji - dan taruhannya tidak lain adalah legitimasi mendasar Leviathan.

Di rezim otoriter Eurasia, isu pokoknya adalah legitimasi orang kuat, yang klaim kekuasaannya didasarkan pada janji utama bahwa 'Saya melindungi Anda'. Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memahami ini dan, dengan demikian, mengambil langkah drastis terhadap penyebaran virus terlepas dari biayanya. Namun, rekan-rekannya di Thailand, Filipina dan Brazil menangani masalah pengendalian penyakit ini dengan ringan dan sekarang diserang oleh para pendukung mereka sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, kekuasaan yang timbul akibat dari pemberlakuan Situasi Darurat dapat pula digunakan untuk membungkam kegaduhan di masyarakat. Siapa yang dapat menjamin bahwa instrumen draconian yang diberlakukan hari ini akan dicabut ketika krisis telah berakhir?

Pertanyaan apakah, di mata pemilihnya, Donald Trump memenuhi janji utamanya untuk melindungi Amerika dari ancaman eksternal kemungkinan akan berdampak pada hasil pemilu Amerika. Terlepas dari penanganan pandemic yang sangat buruk, tingkat persetujuan terhadap Presiden Trump yang sempat goyah di awal mulai mengalami peningkatan. Seringkali di masa krisis, masyarakat cenderung berkumpul dan mendukung pemimpinnya.

Pandemi dengan skala internasional menuntut respon global yang terkoordinasi. Namun, sampai sekarang, masing-masing negara melakukan upaya sendiri-sendiri.

Sementara krisis corona ini mungkin membuat kelompok populis di pemerintahan patah hati, krisis ini bisa jadi adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh kelompok oposisi. Di mata banyak warga, negara-negara demokrasi sudah kehilangan kendali dalam krisis di 2008 dan 2015. Masa-masa kebijakan penghematan dan pemangkasan sistem perawatan kesehatan sampai seminimal mungkin yang telah berlangsung selama beberapa dekade telah mengeroposi struktur negara; banyak orang khawatir apakah negara mereka masih mampu mengatasi krisis besar. Di banyak negara, sentimen masyarakat sedang berbalik menentang pergerakan bebas uang, barang, dan orang.

Banyak orang Italia yang sudah lama khawatir berada di antara pecundang globalisasi dan mata uang euro. Lalu sekarang muncul langkah-langkah darurat, gejolak ekonomi dan krisis pengungsi lagi. Populis sayap kanan Lombard, Matteo Salvini, bukanlah satu-satunya orang yang tahu bagaimana memanfaatkan topik 'perbatasan yang terbuka, orang asing yang berbahaya, elit yang korup, dan negara-negara yang tak berdaya' untuk meracik ramuan beracun. Jangan membuat kesalahan, negara-negara demokrasi liberal Eropa Barat sedang diawasi. Di tengah pemberontakan kelompok populis sayap kanan, kubu demokrat sekarang harus membuktikan bahwa mereka mampu dan akan melindungi kehidupan seluruh warga negara.

Namun demikian, seberapa jauh kebebasan individu dapat dibatasi? Berapa lama keadaan darurat seharusnya berlangsung? Apakah masyarakat Barat bersedia menoleransi langkah-langkah drastis seperti yang diberlakukan di Tiongkok? Haruskah mereka, seperti rakyat di Asia Timur, memprioritaskan kepentingan kelompok daripada kepentingan individu? Bagaimana tingkat penyebaran penyakit ini dapat diperlambat jika warga tidak patuh terhadap rekomensasi tentang 'jarak sosial'? Selain itu, apa makna solidaritas terhadap orang lain ketika satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah mengisolasi diri kita sendiri?

Masing-masing negara berjalan sendiri

Pandemi dengan skala internasional menuntut respon yang dikoordinasi secara global. Namun, sampai saat ini, masing-masing negara telah menjalankan upaya sendiri-sendiri. Bahkan di Eropa sendiri tidak ada solidaritas. Seperti ketika terjadi krisis mata uang euro dan krisis pengungsi, Italia khususnya merasa bahwa para mitra mereka telah mengecewakan mereka. Tiongkok dengan cerdik mengambil keuntungan dari kelangkaan solidaritas Eropa ini dan mengirimkan pesawat ke Italia, negara mitra Sabuk dan Jalan-nya, sarat dengan pasokan medis. Sementara itu, Berlin telah menyadari dimensi geopolitis dari krisis ganda tersebut - virus corona dan pengungsi - dan prihatin dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh kekuatan eksternal untuk memecah Eropa. Larangan ekspor bagi alat perlindungan medis telah dilonggarkan lagi dan Italia dijamin akan mendapat bantuan darurat dalam bentuk satu juta masker pelindung wajah. Lebih penting lagi, Pakta Stabilitas Eropa telah ditangguhkan untuk memberi Italia ruang bernafas fiskal guna menyelamatkan ekonominya. Tetapi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam perdebatan yang sangat emosional mengenai surat utang Eurobond - atau disebut juga sebagai Surat Utang Corona, krisis solidaritas ini sangat mengguncang dasar fondasi Eropa.

Krisis ini juga merupakan satu ujian stres bagi kemitraan transatlantik yang sudah sangat terbebani. Keputusan Presiden Trump untuk mengisolasi Amerika Serikat dari mitra-mitranya di Eropa tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan mereka telah mengirim sinyal yang jelas. Upaya Amerika untuk mengambil alih CureVac, sebuah perusahan biofarmasi berbasis di Tübingen, Jerman untuk mengamankan vaksin secara eksklusif untuk Amerika Serikat, bahkan telah meningkat menjadi perselisihan sengit dengan Berlin. Dalam kondisi seperti ini, respons terhadap krisis yang dilakukan secara bersama dan terkoordinasi hampir tidak mungkin. Slogan yang menjadi buah bibir di Barat saat ini adalah 'Masing-masing orang untuk dirinya sendiri'.

Di tingkat global, konflik baru antara kekuatan-kekuatan besar semakin memicu krisis. Perang harga minyak khususnya didorong oleh alasan geo-ekonomi. Konflik antara Arab Saudi dan Rusia mengundang pertanyaan tentang keberlangsungan nasib kartel OPEC. Pecundang besar dalam jatuhnya harga minyak ke titik terendah dalam sejarah pada akhirnya adalah industri minyak serpih Amerika Serikat yang terjerat hutang besar-besaran. Jadi, jika harga yang lebih murah di pompa bensin adalah sebuah berkah, seperti yang dijanjikan Presiden AS, tergantung pada siapa yang dapat bertahan paling lama dalam gesekan perang ini. Namun demikian, kepentingan utama pihak Rusia dan Arab Saudi adalah menjatuhkan kompetitor Amerika mereka yang dibiayai oleh hutang.

Apa pun akibat dari perang minyak tersebut, keseimbangan kekuatan dalam pasar minyak akan disesuaikan. Perdebatan tentang 'puncak minyak', yang telah berkecamuk selama beberapa dekade, seharusnya mengalami perubahan yang menarik. Pada akhirnya, yang akan menentukan meredupnya industri minyak bukanlah pasokan bahan bakar fosil yang semakin menipis. Dengan harga rendah secara permanen, mengekstraksi cadangan yang tersisa mungkin secara ekonomi tidak lagi menguntungkan. Mungkin kah sebuah konflik geo-ekonomi secara tidak sengaja menandai akhir zaman fosil?

Krisis ini juga memanasi konflik hegemoni AS-Tiongkok. Selama beberapa waktu sampai sekarang sudah ada konsensus dua pihak di Washington untuk memisahkan ekonomi Amerika dari ekonomi Tiongkok supaya tidak memperkuat pesaing dalam hal supremasi global, dengan memasok uang dan teknologi Amerika ke Beijing. Perusahaan-perusahaan yang berada di posisi global sekarang ini harus dapat menyatukan kembali rantai pasokannya dalam semalam. Apakah semua korporasi ini akan kembali ke Tiongkok segera setelah krisis ini selesai? Eksekutif korporasi harus berpikir dua kali sebelum mereka memutuskan apakah mereka akan mengabaikan instruksi geopolitik dari Washington. Hal ini dapat menjadi peluang bagi negara ekonomi berkembang seperti Vietnam atau India.

Lalu, bagaimana perusahaan-perusahaan Eropa akan memposisikan diri mereka kembali setelah krisis, setelah biaya terlalu bergantung pada rantai pasok Tiongkok telah menjadi terlalu jelas? Dalam perdebatan mengenai apakah perusahaan Tiongkok Huawei harus dikeluarkan dari perluasan infrastruktur 5G Eropa, orang Eropa sudah merasakan betapa besar tekanan yang dapat dilakukan oleh Amerika. Krisis corona oleh karenanya dapat mempercepat perkembangan apa yang sudah berlangsung untuk beberapa lama: deglobalisasi. Sebagai akibatnya, pembagian kerja global dapat tercerai-berai menjadi blok-blok ekonomi yang saling bersaing. Pihak pihak ini mungkin akan bergabung dengan hegemon regional untuk menyingkirkan pesaing yang tak diinginkan melalui ketidaksesuaian norma dan standar, platform teknologi dan sistem komunikasi, atau konektivitas infrastruktur eksklusif dan hambatan terhadap akses pasar.

Lalu bagaimana perkembangan ini berpengaruh pada nasib negara-negara berkembang yang berusaha untuk naik dalam rantai pasokan global? Apakah mereka telah kehilangan momentum untuk mengejar industrialisasi? Bagaimana negara seperti Bangladesh, Myanmar, atau Pakistan dapat menyediakan penghidupan bagi ratusan pekerjanya, apabila perusahaan brand global memutuskan untuk berproduksi di tempat yang lebih dekat dengan basis pasarnya? Dan bagaimana negara dengan pendapatan menengah seperti Thailand dan Malaysia bisa menaiki rantai nilai global, apabila rantai ini diputus oleh alasan geopolitis? Dengan tidak adanya pilihan strategis, negara-negara ini sangat rentan terhadap tekanan dari patron regionalnya.

Security officers check the body temperature of passengers at the entrance of Depok Railway Station to prevent the spread of Covid-19. Image: iStock | Joko Harismoyo
Security officers check the body temperature of passengers at the entrance of Depok Railway Station to prevent the spread of Covid-19. Image: iStock | Joko Harismoyo

Dalam semalam, era neoliberalisme akan segera berakhir

Tiba-tiba semua berlangsung dengan sangat cepat. Dalam waktu beberapa jam, begitu banyak dana dipompa ke pasar yang membuat janji-janji 'radikal' kandidat presiden dari partai Demokrat, Bernie Sanders, yang bila dibandingkan tampak seperti uang saku. Para politisi Jerman, yang kemarin menjadi panas oleh renungan intelektual dari sosialis muda Kevin Kühnert, sekarang secara serius mempertimbangkan nasionalisasi korporasi. Apa yang selama ini dianggap remeh dalam debat iklim karena dianggap sebagai mimpi kanak-kanak yang naif sekarang menjadi realitas menyedihkan: lalu lintas udara global lumpuh. Perbatasan yang dianggap tidak dapat ditutup selama krisis pengungsi sekarang benar-benar ditutup. Bersama dengan itu, gubernur Bavaria yang konservatif, Markus Söder, telah meninggalkan obsesi Jerman tentang anggaran berimbang, serta mengumumkan, 'Kita tidak akan diatur oleh masalah akuntansi, tetapi oleh apa yang dibutuhkan Jerman.'

Era neoliberalisme, dalam pengertian dominasi kepentingan pasar di atas semua kepentingan sosial lainnya, akan segera berakhir. Tentu saja, semua langkah ini disebabkan oleh keadaan darurat. Namun, rakyat akan mengingat ini semua ketika dalam waktu dekat mereka akan diberi tahu 'Tidak ada alternatif lain.' Dengan adanya krisis ini, ruang politik yang telah lama diam telah digerakkan kembali. Setelah skeptisisme neoliberal yang telah berlangsung selama empat dekade tentang negara, sebuah fakta yang sudah lama tidak aktif telah digerakkan kembali: bahwa negara bangsa masih memiliki kekuatan kreatif yang sangat besar, kalau saja mereka bersedia menggunakannya.

Krisis corona menjadi uji lapangan yang luar biasa. Jutaan orang sedang bereksperimen dengan cara-cara baru dalam mengatur kehidupan mereka sehari-hari.

Seperti sebuah lampu sorot, krisis corona menyinari garis patahan geopolitik, ekonomi, ideologi, dan budaya zaman kita. Mungkinkah retakan di bangunan ini bahkan menandakan istirahat zaman? Apakah era turbo-globalisasi akan berakhir dengan membelah blok-blok ekonomi utama? Apakah perang harga minyak menandakan berakhirnya ekonomi industri fosil? Apakah sistem keuangan global sedang mengalami perubahan untuk menjadi rezim baru? Apakah tongkat penjamin sistem telah beralih dari Amerika Serikat ke Tiongkok, atau apakah kita sedang mengalami terobosan dunia dengan multi poros?

Satu hal yang pasti adalah bahwa virus corona dapat membawa terobosan bagi sejumlah tren yang telah lama tersembunyi. Semua perkembangan ini saling mempengaruhi satu sama lain dengan kecepatan yang menakjubkan. Kompleksitas ini menunjukkan bahwa krisis ini akan lebih dalam dari resesi 2008. Pandemi ini dapat menjadi sekring yang membakar tong berisi mesiu krisis sistem global.

Jendela menuju masa depan terbuka lebar

Businessman Overcoming Difficulties Due To COVID-19. Image: iStock | ilkercelik
Businessman Overcoming Difficulties Due To COVID-19. Image: iStock | ilkercelik

Krisis corona sama dampaknya dengan uji lapangan yang luar biasa besar. Jutaan orang saat ini sedang melakukan eksperimen dengan cara-cara baru dalam mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Para pelaku bisnis beralih dari melakukan penerbangan ke konferensi melalui video. Karyawan bekerja dari rumah. Beberapa akan kembali ke pola lama setelah krisis. Namun, banyak yang sekarang sudah belajar langsung dari pengalaman pribadi bahwa ternyata cara baru untuk bekerja tidak hanya dapat dilakukan, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan ramah keluarga. Kita harus menggunakan momen disrupsi ini, pengalaman langsung dalam pengurangan kecepatan, untuk mendorong perubahan perilaku jangka panjang dalam perang melawan perubahan iklim.

Jurnalis Inggris Jeremy Warner dengan sinis meringkas pandangan neoliberal terhadap krisis ini: 'Dari sudut pandang ekonomi yang sama sekali tidak tertarik, COVID-19 bahkan mungkin terbukti sedikit bermanfaat dalam jangka panjang dengan secara tidak proporsional memusnahkan tanggungan lansia [sic!].' Berbeda tajam dengan kurangnya solidaritas yang ditunjukkan oleh pemerintahannya, masyarakat mengalami suatu gelombang solidaritas di lingkungan mereka. Kapan terakhir kali mesin kapitalis dihentikan untuk melindungi yang tua dan sakit? Kita dapat menjadikan pengalaman solidaritas ini sebagai dasar untuk membuat masyarakat menjadi bersatu kembali. Jika kita dapat mengatasi krisis ini bersama-sama, kita sedang menciptakan simbol untuk bangkitnya sebuah era yang baru: sebuah komunitas yang tetap bersatu dapat menghadapi tantangan apa pun.

Namun demikian, bereaksi terhadap krisis juga dapat menimbulkan bahaya. Perbatasan ditutup, visa dibatalkan, dan larangan masuk diberlakukan pada orang asing. Tingginya jumlah pesanan untuk robot industri menunjukkan bahwa rantai produksi akan dibuat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kerusakan mesin melalui langkah yang menentukan menuju otomatisasi yang lebih luas lagi.

Otomatisasi digital mungkin menghancurkan harapan dari negara ekonomi berkembang yang sebetulnya siap untuk meraih keuntungan dari terbukanya kesempatan dalam rantai pasokan global. Bahkan hari ini, pabrik-pabrik di India dan Vietnam telah dipenuhi oleh robot. Jumlah penanaman modal asing secara langsung yang bertujuan mendiversifikasi rantai pasokan akan mendorong pertumbuhan, meskipun mungkin pertumbuhan tanpa pekerjaan.

Di negara Barat, beberapa tren tersebut mengancam akan mempercepat putaran hilangnya pekerjaan, ketakutan akan pengucilan sosial, kebencian terhadap imigran, dan pemberontakan politik melawan kaum liberal mapan.

Ahli ekonomi liberal Philippe Legrain dengan tepat mengingatkan: 'Krisis Virus Corona adalah hadiah politik bagi kelompok nasionalis dan proteksionis nativis. Krisis tersebut telah menyuburkan persepsi bahwa orang asing adalah ancaman. Ia juga menggaris bawahi bahwa negara-negara yang sedang mengalami krisis tidak selalu dapat mengandalkan tetangga dan sekutu dekat mereka untuk memperoleh bantuan'. Kita tidak boleh membiarkan kelompok populis sayap kanan mendapatkan hak untuk menafsirkan krisis ini. Tantangan-tantangan global tidak boleh dijawab dengan isolasi dan egoisme nasional, tetapi harus direspon dengan solidaritas dan kerjasama internasional. Bertentangan dengan 2008, kelompok progresif tidak boleh lagi kalah dalam pertempuran dalam menafsirkan situasi yang sedang terjadi dan apa yang perlu dilakukan. Selama berminggu-minggu ke depan, landasan bagi tatanan dunia yang baru akan diletakkan. Kita harus memastikan bahwa kita yang akan membentuk perdebatan tentang bagaimana wujud tatanan tersebut.

Sebuah negara demokrasi yang kuat akan muncul

Banyak orang, khususnya kalangan anak muda, baru untuk pertama kalinya mengalami situasi darurat nasional seperti ini. Dalam hitungan beberapa hari, kebebasan mereka dibatasi sampai batas yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Bukan hanya di Tiongkok, tetapi di tengah-tengah Eropa, teknologi digunakan dalam skala luas untuk memantau dan mengatur perilaku warga negara. Seperti 'perang melawan terorisme' telah mengajarkan kepada kita, banyak dari peraturan darurat yang sekarang diberlakukan akan tetap berlaku setelah krisis ini berakhir. Orang tidak perlu menebak apa agenda tersembunyi dibalik normalisasi darurat seperti yang diberlakukan oleh Giorgio Agamben dan Naomi Klein, yaitu untuk membuat orang menjadi jinak terhadap kapitalisme bencana. Akan tetapi, kita harus mencegah agar hak-hak asasi kita tidak dikikis secara permanen. Di Asia yang selama beberapa decade telah menderita di bawah pemerintahan otoriter, kecenderungan ini cukup mengkhawatirkan.

Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Slavoj Žižek ketika ia memperingatkan bahwa betul sekali jika orang menganggap kekuatan negara bertanggung jawab: 'anda memiliki kekuatan, sekarang tunjukkan apa yang bisa anda lakukan! Tantangan bagi Eropa adalah untuk memperlihatkan bahwa apa yang telah dilakukan Tiongkok dapat dilakukan dengan cara yang lebih transparan dan demokratis.' Negara-negara demokrasi di Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan dan Jepang sampai sekarang sudah dengan mengesankan memperlihatkan bagaimana melakukannya tanpa harus membatasi kebebasan warga negara secara berlebihan. Pendekatan mereka tampaknya lebih cocok dengan demokrasi Barat dibandingkan dengan cara Tiongkok yang keras. Namun, manajemen krisis yang berhasil juga akan memperkuat rasa kepercayaan terhadap negara demokrasi. Dalam keadaan krisis, rakyat cenderung berkumpul di sekitar pemerintahan yang kompeten, pekerja keras dan melindungi.

Krisis global telah meningkatkan kesadaran betapa hiperglobalisasi telah membuat kita jadi begitu rentan. Di dalam dunia yang terjejaring secara global, pandemi dapat dan kenyataannya memang menyebar melewati batas-batas negara dengan kecepatan tinggi.

Setelah program penghematan selama bertahun-tahun telah memangkas sistem perawatan kesehatan sampai seminimal mungkin, sekarang setiap upaya harus dilakukan untuk memberdayakan sistem tersebut untuk mengatasi begitu banyak orang sakit. Penutupan klinik kota, kekurangan kronis dalam hal ketersediaan staf perawat dan penyediaan alat teknis yang menyedihkan sekarang memakan korban. Di Thailand klinik swasta telah lama menolak terlibat memerangi pandemi. Jarang terjadi bahwa permintaan untuk membalikkan privatisasi mendapat dukungan lebih besar dari publik. Dalam menghadap krisis ini, Spanyol dengan cepat menasionalisasikan semua klinik dan pelayanan kesehatan swasta. Di Prancis, Presiden secara terbuka mempertanyakan kearifan privatisasi neoliberal dan berjanji akan mengubahnya. Juga di Jerman, perdebatan sudah dimulai tentang apakah benar-benar bijaksana untuk membiarkan kehidupan sosial kita diatur oleh pasar. Di masa depan, bukan lagi kepentingan individu untuk memperoleh keuntungan yang diutamakan, tetapi kebaikan bersama untuk semua pihak yang akan menjadi fokus utama pelayanan publik.

Rekonstruksi pelayanan publik membutuhkan investasi dalam jumlah milyaran. Kanselir Merkel sudah menegaskan bahwa rem hutang yang diatur oleh konstitusi tidak berlaku dalam situasi luar biasa seperti ini: 'Seperti apa keseimbangan anggaran pada akhir tahun bukan masalah bagi kita'. Dalam situasi seperti sekarang ini, pemerintah Jerman melakukan apa yang belum pernah dilakukan dalam sejarah, yaitu membuka payung penyelamat bagi orang yang bekerja sendiri dan para pekerja lepas, sampai korporasi besar. 'Kami akan melakukan segala yang mungkin,' ujar Menteri Keuangan Federal Scholz. Kerangka kerja untuk memberi jaminan, yang totalnya mencapai setengah trilyun euro, baru permulaannya saja, kata Menteri Perekonomian Federal Altmaier.

Jadi, dalam krisis ini kita semua kembali menjadi pengikut teori Keynes. Berbeda dengan langkah yang diambil setelah resesi 2008, kita tidak boleh kembali mengambil langkah penghematan lagi setelah krisis ini. Setelah diberlakukannya kebijakan penghematan selama beberapa dekade, banyak layanan yang amblas: kesehatan dan pendidikan, pemerintah lokal, infrastruktur transportasi, angkatan bersenjata Jerman, dan kepolisian. Untuk mengatasi ketakutan yang luas akan kehilangan kontrol, untuk mempersiapkan ekonomi bagi revolusi digital dan, yang tak kalah penting, untuk memerangi perubahan iklim, diperlukan investasi dengan proporsi yang patut dicatat oleh sejarah.

Jangan tahan napas. Setelah krisis keuangan tahun 2009, biaya yang luar biasa besar untuk paket penyelamatan disosialisasikan melalu kebijakan pengetatan anggaran. Bank menggunakan uang pembayar pajak untuk mengkonsolidasikan sahamnya. Tentu saja sebagai hasilnya, konsentrasi kekuatan dan sumber daya di kelompok paling atas semakin dipercepat.

Tidak hanya negara dan masyakarat di Barat, bahkan perekonomian yang sesungguhnya tidak akan dapat melewati satu dekade pengetatan anggaran lagi. Negara berkembang tidak seharusnya ditinggalkan sendirian untuk menghadapi dampak mengerikan dari krisis ini dan situasi perekonomian sesudahnya. Negara-negara Eropa sangat ingin terlibat dan membantu proses pemulihannya, khususnya untuk menghindari krisis pengungsi lainnya. Terakhir namun tak kalah penting, planet kita tidak dapat lagi menahan tekanan. Investasi dalam transformasi sosial-ekologis yang diperlukan untuk memitigasi pemanasan global harus dilaksanakan sekarang dan tidak dikalahkan oleh riuh rendah upaya penanggulangan krisis corona. Kita semua Bersama-sama dalam krisis ini.

Demokrasi sosial dapat menyelamatkan kita dari krisis

Krisis global telah meningkatkan kesadaran tentang bagaimana hiperglobalisasi telah membuat kita begitu rentan. Dalam dunia yang saling berjejaring secara global, pandemi dapat dan memang menyebar melintas batas dengan kecepatan tinggi. Rantai pasokan global terlalu mudah terputus. Pasar keuangan menjadi rentan. Kelompok populis kanan ingin menutup perbatasan dan mengisolasi diri mereka dari dunia - tetapi itu adalah langkah yang salah dalam menjawab tantangan global yang berupa epidemi, perang, migrasi, perdagangan dan perubahan iklim. Sebaliknya, seharusnya sasaran kita adalah menangani akar penyebab krisis ini. Untuk melakukannya, ekonomi global harus ditempatkan di atas fondasi yang lebih tangguh.

Setelah krisis Corona ini, rantai pasokan global mulai melakukan penataan kembali. Rantai pasokan yang lebih pendek, misalnya, dengan fasilitas produksi Amerika di Meksiko dan fasilitas Eropa di Eropa Timur, akan membuatnya lebih stabil. Eropa harus kembali menjadi berdaulat secara teknologi. Untuk melakukan ini, kita perlu lebih erat bekerja sama dalam riset dan pengembangan. Sistem keuangan global, yang dipersatukan hanya oleh perekat yang tidak lebih kuat dari lakban, sangat perlu untuk ditata ulang. Selama lebih dari satu dekade, bank-bank sentral Eropa belum mampu untuk mengatasi tren deflasi melalui kebijakan moneter. Dalam krisis ini, pemerintah dengan kebijakan fiskal yang ekspansif menyingkir ke pinggir. Secara politis, ini berarti kembali ke logika dasar parlementerisme, yaitu prinsip 'Tidak ada pungutan pajak tanpa perwakilan'. Dengan kata lain, sistem keuangan harus diletakkan kembali di bawah kendali demokrasi.

Konflik timbul dari saling ketergantungan yang berlebihan. Konflik-konflik ini harus ditopang oleh norma internasional dan kerja sama multilateral. Namun, tidak seperti krisis keuangan 2008, sekali ini tidak ada tanggapan dari dua puluh ekonomi terbesar. Persaingan geopolitik antara para kekuatan besar di satu sisi dan seruan kelompok populis sayap kanan untuk melakukan isolasi di sisi lain menjadi penghambat kerja sama internasional yang lebih luas. Unsur tata kelola multilateral perlu diperkuat dengan kontribusi nyata. Ini dapat dimulai dengan memberikan pendanaan yang solid kepada WHO dan diteruskan dengan mengadakan rapat G20 untuk mengkoordinasikan manajemen krisis ekonomi. Dengan demikian Aliansi Multilateralis dapat membuktikan nilai tambahnya.

Krisis ini secara drastis telah memperjelas kepada rakyat bahwa status quo tidak dapat diteruskan. Keinginan kita untuk melakukan reorganisasi kegiatan ekonomi dan kehidupan kolektif telah menjadi lebih besar. Pada waktu yang sama, bahaya yang ada harus ditangkal tanpa membatasi demokrasi dan kemerdekaan secara tidak proporsional. Kekuatan politik mana yang dapat menegosiasikan kompromi sosial yang dibutuhkan untuk melakukan ini? Ilmuwan politik Amerika pernah mengajukan pertanyaan yang mencemaskan: 'Dapat kah sosial demokrat menyelamatkan dunia (lagi)?' Mari kita selesaikan.

Versi awal dari artikel ini diterbitkan di International Politics and Society (IPS) journal dan FES Asia Corona Brief.

Marc Saxer mengepalai departemen Asia Friedrich-Ebert-Stiftung (FES). Sebelumnya dia bekerja di kantor regional FES di India dan Thailand dan mengkoordinasi proyek Ekonomi Masa Depan di Asia (Economy of Tomorrow in Asia).

Friedrich-Ebert-Stiftung
Indonesia Office

Jl. Kemang Selatan II No. 2A
Jakarta Selatan 12730
Indonesia

+62 21 7193711
+62 21 71791358

info(at)fes.or.id
www.fes.or.id

kembali ke atas