• Photo: © jakartatravel | Fotolia.com - Jakarta cityscape #86639901

Transformasi Sosial di Perkotaan

Meningkat pesatnya proporsi populasi perkotaan di seluruh dunia berjalan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terkait perumahan terjangkau, segregasi sosial, mobilitas sosial, keadilan antar-generasi, ruang sosial, akses kepada barang publik, serta kemacetan lalu lintas. Konsep pembangunan perkotaan Social City memperhitungkan aspek-aspek sosial tersebut dalam urbanisasi.

Dalam dua abad terakhir, bukan hanya industrialisasi yang berkembang pesat dan dengan cepat menggantikan pertanian sebagai kegiatan ekonomi utama masyarakat di seluruh dunia, namun juga urbanisasi yang tanpa henti. Pada 2014, jumlah masyarakat yang tinggal di kota lebih banyak daripada di desa, yang menandakan adanya perubahan esensial yang mengubah wajah peradaban manusia. Pada 2014, PBB menyatakan bahwa 54% populasi dunia tinggal di perkotaan, dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 66% pada 2050, yang akan menjadikan populasi masyarakat perkotaan sebesar 2,5 miliar orang dengan 90%-nya terkonsentrasi di Asia dan Afrika. Bahkan di seluruh dunia saat ini, kita menyaksikan bukan hanya kota, namun "mega-kota" yang populasinya setara dengan negara kecil. Jabodetabek misalnya memiliki populasi sebesar 28 juta orang.

Pusat kota, yang kini menjadi titik konsentrasi utama populasi dunia, adalah mikro-kosmos pembangunan dan tantangan global. Perubahan-perubahan sosial ekonomi dan demografi nasional maupun berbagai budaya tercermin dalam perkembangan wilayah perkotaan. Kota besar, kota kecil dan lingkungan yang layak ditinggali, menarik, fungsional dan seimbang secara sosial semakin menjadi fondasi kesatuan sosial masyarakat secara umum. Namun di saat yang sama, kota besar, kota kecil dan lingkungan yang seimbang secara sosial tersebut semakin tergerus. Karenanya, pembangunan perkotaan yang seimbang secara sosial dan ekologis harus menjadi perjuangan utama bagi negara-negara industri maju maupun negara berkembang dengan pertumbuhan cepat seperti Indonesia.

Berdasarkan kondisi ini serta untuk mempromosikan keadilan antar-generasi, distribusi setara, mobilitas sosial, ruang sosial dan keramahan ala keluarga di lingkungan perkotaan, FES bersama dengan PMK, lembaga pemerintah terkait lainnya serta mitra masyarakat sipil mendukung pertukaran tentang Kota Sosial Berkelanjutan.

Friedrich-Ebert-Stiftung
Indonesia Office

Jl. Kemang Selatan II No. 2A
Jakarta Selatan 12730
Indonesia

+62 21 7193711
+62 21 71791358

info(at)fes.or.id
www.fes.or.id

Publikasi Terkait

kembali ke atas